Selasa, 09 November 2010

ANAK DIDIK YANG SEMAKIN NAKAL ATAU ...?

Guru yang semakin tidak sabar? Itulah barangkali kalimat yang menurut saya pas untuk melanjutkan pertanyaan di atas. Anak-anak sekarang ini kok nakalnya itu berbeda dengan nakalnya anak-anak di zaman kita, ya? Itulah komentar salah seorang guru pada saya beberapa waktu yang lalu.
            Nakal, bagi sebagian besar anak saya yakin tidak ada yang mau mendapatkan gelar tersebut. Mengapa? Sebenarnya, kalau kita mau bertanya langsung kepada anak-anak tentang anak nakal, jawaban yang muncul adalah nakal ya nakal, pokoknya nakal itu ya nakal, nakal itu usil, suka mengganggu. Sehingga dari peryataan tersebut jelas bahwa sebenarnya mereka masih bingung dan menebak-nebak apa sebenarnya nakal itu. Akan tetapi, kemudian lingkunganlah yang membuat seorang anak itu yakin bahkan ketika banyak orang yang mengatakan bahwa dia anak nakal secara terus menerus dan dalam jangka waktu yang lama, secara otomatis otak bawah sadar anak pun akan mengatakan bahwa aku adalah anak nakal karena orang-orang sering mengatakan aku nakal. Kesimpulan sepihak dari anak ini kemudian akan menjadi dampak yang serius pada perkembangan psikologisnya, sehingga akan muncul citra diri yang negatif pada diri anak bahwa dia memang anak yang nakal.
 Sebagai seorang guru (baca: pendidik) saya memang sangat berhati-hati dengan satu kata ini, nakal. Karena saya merasa bahwa ketika kita mengatakan bahwa anak didik kita nakal, bisa jadi itu adalah sebuah doa sehingga anak didik tersebut benar-benar menjadi anak nakal. Pertanyaan saya pun setiap hari terus berkembang tentang anak nakal ini. Benarkah memang ada anak nakal? Benarkah kenakalan anak sekarang sudah mengalami peningkatan dibanding dengan zaman kita dulu?
 Saya memang sempat merenung lama, mencoba untuk mencari makna “nakal” kemudian mengutak-atik dan membolak-balikannya lagi dalam pikiran saya. Hingga, akhirnya mata hati (bashirah) saya mulai terbuka ketika beberapa waktu yang lalu saya mengahadiri sebuah seminar parenting yang diadakan sebuah yayasan pendidikan di kota Batu. Ada yang membuat saya dan peserta lain seolah terhakimi. Betapa tidak? Karena saat itu pembicara sempat melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat semua peserta takjub. Di awal prentasinya, pembicara mengajukan sebuah pertanyaan luar biasa kepada para peserta seminar. Pertanyaannya demikian, ibu-ibu..., apakah ibu-ibu yang hadir di sini pernah atau ada yang melahirkan anak nakal? Tentu saja tak satu pun peserta yang hadir saat itu memberikan jawaban iya, tetapi sebaliknya serempak menjawab tidak.
            Memang benar, bahwa anak nakal itu tidak dilahirkan akan tetapi diciptakan. Terus, siapa yang menciptakan? Sadarkah kita bahwa peran kita sebagai guru, orang yang paling dekat dan bertanggung jawab kepada anak didik di sekolah sangat besar dalam menciptakan seorang anak itu menjadi anak nakal atau tidak? Coba kita renungkan bersama, bisa jadi celetukan-celetukan tanpa sadar yang kita lontarkan kepada anak didik kita selama ini membuat perkembangan psikologi mereka memiliki citra diri negatif.  Bahkan pernyataan kita ketika membandingkannya dengan kenakalan kita di zaman dulu juga sebuah kesalahan?
            Lalu, dimana letak kesalahannya? Kesalahan tersebut bearangkat dari pertanyaan di atas tadi. Mestinya ketika kita membuat perbandingan terhadap perbedaan tingkat kenakalan anak didik di zaman sekarang dan zaman dulu akan lebih adil jika kita juga membuat perbandingan pada tingkat kesabaran guru sekarang dengan guru zaman dulu dalam menghadapi anak nakal. Dahulu, barangkali kalau kita bicara sosok guru yang terbayang di benak kita pasti sosok yang sederhana, taat beribadah, dan jarang berkeluh kesah. Sampai ada sebuah cerita demikian, kalau guru zaman dahulu bangun paginya saja pukul tiga, kemudian shalat tahajud, dan tak lupa berdoa menyebut satu persatu nama anak didiknya. Sehingga lebih sabar ketika menghadapi tingkah laku anak didiknya  Sebaliknya, guru zaman sekarang bangun paginya melewati adzan shubuh, tak sempat sholat tahajud, apalagi berdoa untuk anak didiknya. Jangankan berdoa bahkan nama satu-persatu anak ddiknya saja kadang masih lupa dan sering terbolak-balik. Masya Allah, semoga hal yang demikian tidak terjadi pada kita, seorang guru zaman sekarang.
            Anak nakal dan guru sabar. Sebenarnya dua hal ini memiliki korelasi ketika kita mencoba memaknai surat cinta dari-Nya. Di sana memang sudah disampaikan bahwa harta dan anak-anak kita adalah ujian (cobaan) bagi kita, sehingga kita diminta untuk bersabar menghadapi cobaan tersebut, tak terkecuali bagi kita seorang guru. Kita harus memiliki kesabaran dalam diri kita ketika menghadapi dan menyikapi perilaku anak. Sehingga ketika kita sudah memiliki kemampuan untuk bersabar dan mengingat bahwa anak nakal itu adalah ujian. Insya Allah semua akan lapang, sehingga tidak ada reaksi negatif dari kita untuk menyebut perilaku meyimpang dari anak didik kita dengan memberinya gelar/predikat anak nakal.

SEKUNTUM BUNGA UNTUK GURU-GURU TERCINTA
(Persembahan untuk para guru di Hari Pendidikan Nasional)

Allah ciptakan matahari, yang tak pernah bosan bersinar, seperti halnya semangat dan kasih sayangmu dalam mendidik kami, wahai guruku......

Allah ciptakan bulan untuk menerangi malam, seperti halnya engkau guru, yang selalu membimbing dan menerangi kami dengan berbagai ilmu

Allah ciptakan bintang dimalam hari sebagai penghias, seperti halnya engkau guru, yang selalu menghiasi hari-hari kami dengan begitu indahnya.

Allah ciptakan bunga yang begitu harum, seperti halnya engkau  guru yang telah memberikan keharuman pada hari-hari kami, selama kami bermain dan belajar di sekolah.

Wallahu a’lam bishowab.


                                                                        Malang yang basah, 28 April 2010
                                                Untuk anak-anakku di Insan Permata, dengan segenap cinta 
maafkan ustadzah kalau belum bisa bersabar, ya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar