Selasa, 09 November 2010

MENJADI GURU KAYA

Memang bisa ya, kita menjadi kaya walaupun hanya bekerja sebagai seorang guru?,tanya seorang ustadzah kepada saya beberapa waktu yang lalu. Sebelum saya menjawabnya, ada yang berusaha untuk memberikan jawaban bijak kepada beliau. Mungkin saja ustadzah, kalau kita ikhlas insya Allah kita akan kaya hati, artinya kita merasa cukup dengan apa yang kita dapatkan sekarang. Tetapi, di sudut yang lain ada yang menimpali; jadi guru bisa kaya? jangan harap deh hanya menjadi seorang guru kita bisa kaya, mimpi kali ye!
            Itulah barangkali cuplikan obrolan santai yang biasa terdengar di ruang guru sebuah sekolah dasar swasta di pinggir kota Malang, tempat saya mengajar. Obrolan di atas mungkin terdengar sangat klise di telinga kita masing-masing, apalagi bagi kita seorang guru. Tetapi, ternyata kita perlu telusuri sebenarnya apa sih makna pertayaan tadi? Dan yang tak kalah penting, sebagai seorang guru (baca: pendidik) hal yang perlu kita ubah adalah cara berpikir kita tentang makna kata kaya tadi dikaitkan dengan tujuan kita menjadi seorang guru yang bukan hanya seorang pencari kerja semata.
            Ketika kita bicara soal kata kaya, yang terbayang di benak kita pasti materi. Padahal ketika kita melihat makna kaya dalam kamus, kata kaya tidak hanya mengarah kepada hal-hal yang berbau materi, tetapi lebih mengarah kepada subyek yang mempunyai (memiliki) banyak sesuatu. Nah, sesuatu ini saya rasa tidak adil ketika hanya diterjemahkan sebagai materi saja. Lalu, sekarang apa kaitannya dengan profesi kita sebagai seorang guru?Apakah seorang guru tidak boleh menjadi kaya?Atau bahkan ditakdirkan kaya raya?
            Seorang guru itu menurut saya harus menjadi kaya, jika memang belum kaya. Dan, bagi yang sudah kaya tidak terlena dengan kekayaannya, karena kekayaan itu sifatnya tidak kekal dan bisa habis jika kita hanya menikmati saja tanpa berusaha menambah. Saya juga berpendapat bahwa mutlak bagi seorang guru itu mempunyai kekayaan yang melimpah. Lalu, apa saja kekayaan yang mutlak harus dimiliki oleh seorang guru?
Pertanyaan di atas barangkali menggelitik benak kita. Bagaimana tidak? Seperti para elit politik yang siap kekayaannya diaudit ketika melakukan fit and proper test ketika seleksi menjadi menteri, kepala daerah, dan pejabat teras lainnya. Begitu juga seharusnya dengan kita, para guru. Sehingga, saya kemudian mengartikan bahwa seorang guru menurut saya harus memiliki kekayaan dengan standar minimal sebagai berikut:
Pertama, guru harus kaya ilmu. Sebagai seorang guru kita harus memiliki mental haus akan ilmu. Artinya, semangat kita untuk mengetahui hal-hal baru di luar apa yang kita ajarkan adalah penting.
Suatu hari saya pernah ditanya salah seorang siswa saya, lebih kurang begini pertanyaannya; Ustadzah, menurut Ustadzah alien itu ada apa tidak?Trus, kalau nggak ada alien, kenapa ditemukan piring terbang di Benua Amerika?Aku tadi pagi melihat beritanya di  televisi. Saya bingung harus menjawab pertanyaan siswa saya tersebut. Kenapa? Karena saya tidak memiliki pengetahuan tentang alien, UFO, dan piring terbang.
Menjadi guru mungkin semua orang bisa. Tetapi menjadi guru yang memiliki keahlian dalam mendidik atau mengajar perlu pendidikan, pelatihan dan jam terbang yang memadai. Sehingga, guru yang kaya ilmu adalah guru yang memiliki kemampuan intelektual yang memadai, kemampuan memahami visi dan misi pendidikan, keahlian mentrasfer ilmu pengetahuan atau  metodelogi pembelajaran, memahami konsep, perkembangan anak/psikologi perkembangan, kemampuan mengorganisir dan problem solving, kreatif dan memiliki seni dalam mendidik.
Kedua, guru harus kaya hati, kaya hati sangat perlu dimiliki oleh para guru, karena di dalam hatilah tempat keikhlasan itu, tanpa keikhlasan ilmu yang kita berikan kepada anak didik kita akan sia-sia.
Seperti yang dikatakan oleh Aa Gym, bahwa
Ketiga, yang tida kalah penting guru harus kaya kreatifitas. Mengapa? Karena tidak semua guru bisa menjadi guru kreatif. Suatu contoh, ada sebuah cerita di sebuah sekolah yang sama. Begini, beberapa waktu yang lalu saya sempat mendengar keluh kesah salah seorang guru pada saya. Tepatnya, beliau mengeluh tentang anak-anak yang jarang bisa “diatur” ketika pelajaran dimulai. Lalu, saya pun tertarik untuk balik bertanya. Kenapa ya, ustadzah? Beliau pun  akhirnya menjawab singkat, apa mungkin saya kurang kreatif, ya? hingga saya pikir jawabannya lebih mengarah kepada pertanyaan balik yang ditujukan kepada dirinya sendiri. Instrospeksi diri, nih!
Kreatif, tujuh huruf ini yang membuat sebagian guru masih merasa kesulitan. Hingga akhirnya mereka memilih menjadi guru yang “biasa-biasa” saja. Padahal kalau kita mau mencari artinya, yang kita dapatkan hanya sebuah definisi yang cukup padat, singkat, dan jelas yaitu memiliki daya cipta atau berarti pekerjaan yang menghendaki kecerdasan dan imajinasi. Lho? berarti, sebagai seorang guru bisa dikatakan kreatif (memiliki kreativitas) jika ia memiliki kemampuam untuk menciptakan sesuatu, dong! Lalu, sesuatu itu dianggap memiliki kreatifitas, jika bagaimana?
Merujuk dari teori marketingnya James Gui, kreatif itu tidak harus benar-benar menciptakan tetapi rumusnya adalah ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi) dari produk yang sudah ada. Nah, ternyata mudah bukan kalau kita sudah tahu ilmunya?
Keempat, adalah kaya nasehat. Seorang guru yang memiliki qaulan tsaqiila akan memberika pengaruh yang besar bagi anak didiknya. Bagaimana tidak, kesannya akan berbeda ketika satu kecap kata yang keluar dari lisan guru itu bisa membuat anak didik kemudian terdiam dan terdorong untuk melakukan nasehat yang diperintahkan oleh guru. Tetapi, sebaliknya tak satu pun kata-kata yang keluar dari lisan kita dilaksanakan, bahkan didengar pun tidak. Masya Allah, semoga buka termasuk dari kita.
Lalu, bagaimana kunci seorang guru agar memiliki qaulan tsakqiila? Qaulan tsaqiila akan dimiliki oleh seorang guru jika ia memiliki kedekatan yang  luar biasa dengan penciptaNya, yaitu Allah SWT. Sehingga apa pun yang ia katakan selalu bernilai (berbobot) terutama effect-nya kepada anak didik.
 Kelima, guru harus kaya doa. Mengapa? Doa adalah otaknya ibadah. Doa adalah senjata yang paling ampuh bagi seorang guru untuk keberhasilan murid-muridnya. Saya jadi teringat sebuah kisah yang sempat saya alami dan bahkan sempat saya tulis setahun yang lalu tentang daftar hitam murid-murid yang langganan remidi, kurang matang psikologi, bahkan divonis untuk tidak naik kelas. Akan tetapi, kenyataannya akhirnya mereka naik juga ke jenjang selanjutnya. Lalu siapa yang membuat mereka bisa naik kelas? Ya tentu jawabnya kita, guru.
Menyempatkan untuk menyebut nama dan membayangkan wajah anak-anak didik kita seraya memohon kepada Allah SWT keberhasilan atas diri mereka adala sesuatu yang  sangat berarti bagi mereka. Saya sempat merenung, bisa jadi kita saat ini berhasil dan mendapatkan hidayah seperti bisa jadi karena do’a dari para guru kita dahulu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar